Tuesday, November 24, 2009

Pengujian DC Versus AC


Bilamana tegangan tertentu diterapkan pada isolator, maka mengalir suatu arus yang terdiri dari arus pengisian (Ic) dan arus (Ir). Arus charging (arus pengisian) mendahului komponen arus sefasa dengan sudut 90 derajat. Jumlah vektor dari arus charging dan komponen arus Ir adalah arus total IT yang ditarik oleh specimen isolator. Arus komponen Ir adalah juga mengacu pada arus resistivitas, rugi-rugi arus, atau arus konduksi.

Pengujian Tegangan DC.
Jika tegangan DC dikenakan pada isolasi, maka akan mengalir arus yang terjadi pada saat awal pencatuan yang akan memberikan energi pengisian (charging); tetapi, arus ini berkurang sampai ke tingkat minimum dengan berlalunya waktu. Arus minimum timbul sehubungan kebocoran atau rugi-rugi watt yang melalu isolator. Energi yang diperlukan untuk mengisi isolator diketahui sebagai penomena absorpsi dielektrik.
Pada praktek sebenarnya, rugi-rugi dari dielektrik absoption (contohnya : arus absorpsi) adalah lebih besar dari rugi-rugi bocor kontinyu. Dalam hal pengujian arus searah, pengaruh dari dielektric absorption menjadi minimum dengan berlalunya waktu dan oleh sebab itu, pengukuran arus bocor kontnyu dapat dilakukan. Rugi-rugi bocor absorpsi dielektrik sangat peka terhadap kandungan moisture dari isolasi yang sama kondisinya terhadap adanya kontaminasi pada isolator. Kenaikan sedikit saja kandungan moisture dari isolasi menyebabkan kenaikan yang besar dari arus absorpsi dielektrik. Fakta bahwa rugi-rugi dielektrik berhubungan dengan absorpsi dielektrik yang menyebabkan rugi-rugi dielektrik, pengujian PF atau DF, pengujian yang sangat peka untuk menditeksi moisture pada isolasi. Bilamana tegangan DC diterapkan pada suatu isolasi, arus total yang ditarik oleh isolasi adalah terdiri dari arus pengisian kapasitansi, arus absorpsi dielektrik, dan arus bocor kontinyu. Arus-arus ini dan sifat-sifatnya dibicarakan lebih detail pada bagian. “Direct Current Voltage Testing of Electrical Equipment”.

Pengujian Tegangan AC.
Dalam hal penerapan tegangan AC pada suatu isolasi, arus yang besar akan mengalir yang tinggal konstan sebagai arus bolak-balik mengisi dan membuang pada isolasi. Pengaruh dari arus absorpsi dielektrik tetap tinggi karena medan dielektrik tidak pernah menjadi penuh sehubungan dengan polaritas dari arus yang terbalik pada setiap setengah siklus. Bilaman suatu tegangan AC diterapkan ke suatu isolasi, arus yang ditarik oleh isolasi adalah berhubungan dengan pengisian kapasitansi, absorpsi dielektrik, arus bocor kontinyu, dan korona yang akan dibahas dibawah.
a. Arus Pengisian Kapasitansi. Didalam hal tegangan AC, arus ini adalah konstan dan merupakan fungsi tegangan, konstanta dielektrik dari bahan isolasi, dan geometri dari isolasi.
b. Arus Absorpsi Dielektrik. Bilamana medan listrik ditempatkan memotong suatu isolasi, molekul-molekul dipole berusaha untuk membuat segaris sesuai medan. Karena molekul-molekul pada medan AC secara kontnyu berbalik dan tidak pernah benar-benar segaris, energy yang diperlukan merupakan funsi dari bahan, kontaminasi, (seperti air), dan frkwensi listrik. Dan tidak tergantung pada waktu.
c. Arus Bocor (Konduktivitas). Semua bahan-bahan isolasi akan menghantar arus. Jika tegangan dinaikan di atas tingkat tertentu, elektron akan memukul elektron yang menyebabkan arus lewat melalui isolasi. Kondisi ini merupakan fungsi dari bahan, kontaminasi (khususnya air), dan temperatur. Kelebihan konduktivitas akan membangkitkan panas yang menyebabkan isolasi gagal secara bertahap.
d. Korona (Arus ionisasi). Korona adalah proses di mana molekul-molekul netral udara terlepas membentuk muatan ion-ion positif dan negatif. Hal ini terjadi sehubungan dengan adanya stress yang berlebihan dari void udara didalam isolasi. Udara kosong pada isolasi minyak atau isolasi padat kemungkinan karena kerusakan akibat panas atau stress fisik, proses pembuatan yang kurang baik, kesalahan instalasi, atau pengoperasian yang tidak benar. Korona membentuk udara menjadi ozon, jikas bercampur dengan air akan membentuk “nitrous acid”. Udara terionisasi akan membombardir sekeliling isolasi dan menyebabkan panas. Kombinasi dari keadaan ini menghasilkan penurunan isolasi dan lintasan karbon. Rugi-rugi korona meningkat secara exponensial dengan naiknya tegangan.

Friday, November 20, 2009

Filosofi Beban Listrik

1.0 Persyaratan Beban.
Secara keseluruhan, kebutuhan daya yang diperlukan proyek pembangunan kilang baru atau pengembangannya agar ditentukan sesuai dengan studi beban listrik kilang tersebut, termasuk keberadaan beban dari masing-masing fasilitas dan hasil perhitungan awal agar dikonfirmasikan dengan rancangan final (detail design).
Daftar beban listrik diperoleh dari peralatan mekanis (Mechanical Equipment List) yang digunakan sebagai acuan utama dalam beban listrik yang diharapkan.
Beban pada kondisi operasi normal secara praktis tetap dengan sedikit perubahan pada beban harian dan kondisi musim. Namun demikian, biasanya beban paling tinggi akan terjadi pada musim panas, kondisi ini menggambarkan kenaikan kerja mesin pendingin dan beban-beban HVAC untuk menyesuaikan temperatur udara yang lebih tinggi.
Beban-beban diklasifikasikan sesuai dengan sifatnya seperti kontinyu (C = continue), terputus-putus (I = intermittent), dan standby (S). Beban-beban terputus-putus (intermittent) tergantung faktor siklus kerja yang dapat ditambahkan pada beban kontinyu untuk mendapatkan beban rata-rata (average load).
Beban total dihitung berdasarkan beban rata-rata, beban maksimum, dan beban rancangan. Beban-beban listrik ditentukan berdasarkan rancangan konsep, dengan margin rancangan 25% di atas beban rata-rata dengan memasukan perubahan beban pada kerangka pemakai pada saat pengembangan rancangan guna mencapai perubahan diwaktu mendatang.
Pada tahap rancangan final dapat menggunakan margin sebesar 10% untuk kebutuhan di masa yang akan datang.

2.0. Klasifikasi Pengguna.
Beban listrik diklasifikasikan sesuai dengan pelayanannya seperti: beban normal, beban khusus (essential), dan beban kritis.
Beban Normal – beban-beban yang berhubungan dengan produksi, di mana kehilangan pasokan ini tidak akan menciptakan suatu kondisi yang tidak aman atau menghasilkan kerusakkan pada peralatan. Beban-beban ini tidak mengalami perubahan pada kondisi operasi normal.
Beban-beban khusus (Essential) – beban-beban ini berhubungan dengan keselamatan manusia dan peralatan, walau demikian beban ini kemungkinan akan mengalami pemutusan singkat pada pasokannya tanpa merusak peralatan dan tidak menimbulkan gangguan pada keselamatan manusia yang terjadi pada saat pengoperasian awal generator darurat. Pada kondisi darurat, beban khusus menerima suplai dari generator darurat (emergency generator) yang mampu bertahan memasok daya sampai generator utama dapat dioperasikan atau sekurang-kurangnya generator darurat dapat dioperasikan selama 24 jam.
Beban-beban Kritis – beban kritis (critical loads) merupakan beban yang pasokan dayanya harus dijaga kontinuitasnya untuk mencegah terjadinya kondisi tidak aman. Biasanya, beban ini merupakan sistem kontrol proses produksi dan sistem keselamatan (safety), dan sistem telekomunikasi. Masing-masing beban tersebut biasanya dipasok melalui UPS AC atau DC dengan battere sebagai penyimpan daya cadangan dan mampu bekerja pada periode kerja tertentu. Waktu kerja dari konfigurasi batere ini biasanya ditentukan pada awal rancangan yaitu berkisar antara 30 menit sampai 60 menit. Waktu tersebut diperlukan untuk mengoperasikan peralatan instrument dan control sebelum generator darurat dapat dioperasikan.
Beban-beban bukan listrik – beban-beban yang digerakkan oleh penggerak listrik seperti penggerak pneumatic dan hydraulic perlu diperhitungkan. Beban-beban ini dapat termasuk dalam daftar beban sebagai suatu acuan.

3.0. Konsumsi pengguna daya
Untuk perhitungan kapasitas motor listrik penggerak pompa, efisiensi yang digunakan agar mempertimbangkan efisiensi penggerak dan alat yang digerakkannya. Konsumsi daya listrik ditentukan dari daya poros terpakai (absorbed shaft power) pada titik operasi proses normal dibagi dengan efisiensi motor.
Semua beban-beban, efisiensi dan faktor daya yang digunakan pada studi ini merupakan nilai perkiraan dengan menggunakan data peralatan yang sejenis yang telah ditentukan sebelumnya. Nilai-nilai efisiensi motor dan faktor daya diambil dari data katalog standard produsen motor tertentu yang sesuai dengan kerangka pasokan motor dari proyek serupa terdahulu. Hal yang sama juga dilakukan terhadap tidak tersedianya data informasi rancangan dan data beban yang tidak melibatkan proses produksi.

4.0 Kasus-kasus beban listrik.
Didalam beberapa kasus beban listrik ditentukan dengan cara berikut ini:
Beban rata-rata (average load) – Situasi pada saat operasi normal dan merupakan pembebanan rata-rata didasarkan pada operasi beban kontinyu dan beban terputus-putus.
Beban maksimum (Maximum Load) – Beban ini ditentukan dari beban normal ditambah 125% beban tambahan di mana beban cadangan yang paling besar sedang dioperasikan.
Beban rancangan (Design Load) – Beban ini ditentukan dari beban normal dengan penerapan rancangan (Design) yang diizinkan ditambah beban tambahan di mana beban cadangan terbesar sedang beroperasi.
Beban-beban di atas, bersama-sama dengan detail operasi dari beban individu terbesar yang digunakan untuk menentukan sifat keseluruhan beban dan persyaratan pembangkit daya. Secara umum, pasokan daya harus sesuai dengan beban rancangan, sama seperti setiap perubahan beban peralihan (transient) yang digabung ke pemakai tertentu (specific customer).

5.0. Persyaratan Beban/Kapasitor Perbaikan Faktor daya.
Semua komponen-komponen listrik dari pembangkitan dan distribusi listrik agar ditentukan ukurannya untuk beban rancangan yang ditentukan seperti pada bagian ini.
Kapasitor perbaikan faktor daya agar dipasang pada switchboard tegangan menengah dan pada semua switchboard/motor control center tegangan rendah, hanya jika diperlukan untuk menjaga faktor daya sistem keseluruhan kilang minimum 0.9 terbelakang (lagging) untuk mengurangi mengurangi penurunan tegangan reaktif, dan rugi-rugi daya.
Kapasitor perbaikan faktor daya tidak diperlukan bilmana mana kapasitas generator memenuhi kriteria beban aktual.
Multi-step switch (sekurang-kurangnya 4 langkah/step) otomatis yang dirancang untuk memperbaiki faktor daya dengan mengatur jumlah kapasitor yang terhubung ke sistem yang dipasang pada masing-masing switchboard tegangan rendah.
Kapasitor perbaikan daya agar disuplai dengan reaktor air-core dan RVT (Residual Voltage Transformer) untuk membatasi arus inrush (inrush current) dan untuk menekan harmonis yang dioperasikan melalui vakum atau unit kontaktor yang cocok. MV capacitor banks agar dipilih jenis pasangan luar.
Kapasitor perbaikan faktor daya agar mempunyai rugi-rugi yang rendah, metal enclosed, jenis hermetic sealed. Semua unit-unit kapasitor agar mempunyai proteksi sikring masing-masing fasanya.
Kapasitor tegangan menengah agar dilengkapi dengan konfigurasi hubungan bintang (star) dengan dasar minimum 4 buah unit fasa tunggal yang dipasang paralel perfasa. Sistem insulation agar dirancang agar tahan terhadap tegangan lebih kontinyu senilai 110% dari tegangan normal.

Thursday, November 19, 2009

Pilosofi Desain Listrik


1.0. U m u m.
Fasilitas yang akan dirancang mampu beroperasi sekurang-kurangnya 25 tahun, seperti ditetapkan pada dasar-dasar rancangan (Basis of Design). Semua bahan dan peralatan yang dipilih untuk kilang harus baru. Secara komersial barang tersebut sudah dikenal, terbukti penggunaannya dalam kilang minyak dan gas, dirancang dan dibuat sesuai dengan teknologi terbaru.
Peralatan yang sejenis atau sebagian identik agar dipilih dari yang pabrik sama. Namun semua akan tergantung pada keharusan yang tertuang dalam kontrak dan strategi pemilihan barang yang mungkin dapat diterapkan dibeberapa bagian kilang.
Sistem distribusi agar menggunakan switchgear dan pusat kontrol motor dan switchgear dengan teknologi yang baru (smart motor control centers).

2.0 Redundan dan Ketersediaan.
Secara umum, produksi tidak akan terhenti jika sebuah generator tidak beroperasi, atau sebuah pemutus tenaga bagian-bus atau sebuah trafo tidak beroperasi. Rancangan agar didasarkan pada persyaratan yang pada kontingensi pertama kejadian tidak akan menyebabkan proses penghentian darurat (emergency shutdown). Suatu pengecualian harus dilakukan di mana susunan pasokan redundant tidak dapat diterima secara ekonomis dan sistem harus memperlihatkan tingkat kebolehan dan keandalan yang dapat diterima.
Sistem daya untuk kilang minyak dan gas akan dikembangkan pada tahap berikutnya dan dilakukan studi untuk memenuhi persyaratan-persyaratan berikut ini.
· Pasokan beban operasi normal dengan sebuah generator tidak dioperasikan
· Mampu mengasut motor yang paling besar secara langsung dari jaringan dengan salah satu generator tidak beroperasi, tanpa mengganggu terhadap beban-beban motor yang lain.
· Agar dilengkapi dengan sebuah skema pengaman yang mampu memberi perlindungan yang memadai terhadap pengaruh gangguan yang terjadi pada sistem dan/atau bagian-bagian komponennya.
· Memenuhi standard yang berlaku.
· Melengkapi ketersediaan daya didalam sistem distribusi utama agar darurat (emergency) dan yang diharapkan bertahan akan dicatu dari lintasan alternatif jika terjadi gangguan pada setiap bagian dari pasokan daya normal.

3.0. Studi Sistem.
Studi listrik dilakukan oleh kontraktor/engineer sebagai dasar untuk melakukan pemilihan dan penentuan kemampuan peralatan listrik guna mendapatkan unjuk kerja sistem kelistrikan pada keadaan tunak (steady state) dan kondisi perubahan beban peralihan (transient) yang dapat diterima. Studi tersebut antara lain terdiri studi arus hubung singkat, studi aliran beban, studi pengasutan motor, studi koordinasi relay, studi stabilitas peralihan (transient stability study) dan studi pemulihan gangguan.
Di dalam melakukan studi akan banyak kasus yang harus disajikan, di mana kasus tersebut merupakan kemungkinan pengoperasian yang akan dilakukan. Hasil dari studi awal akan diperbaiki pada saat rancangan final (detail design) untuk memastikan bahwa rancangan sistem daya dapat diterima.
Perhitungan arus hubung singkat yang dilakukan menggunakan data dari pemasok untuk mendapatkan data parameter-parameter mesin dengan nilai toleransi rancangan yang dapat dipertimbangkan. Hasil perhitungan mampu mengenali nilai-nilai maksimum kemampuan switchgear terhadap arus hubung singkat pada kondisi tertutup (making) and membuka kontak (breaking) dengan mempertimbangkan kontribusi motor.
Nilai arus hubung singkat maksimum sistem dihitung berdasarkan semua generator terhubung ke sistem dan adanya kontribusi motor-motor listrik dengan mengabaikan keberadaan cadangan.
Kemampuan switchgear yang dipilih baik dalam kA atau MVA terhadap arus hubung singkat sekurang-kurangnya 10% di atas tingkat arus hubung singkat tiga fasa maksimum.

3.1. Studi Hubung singkat (Short-circuit study)
a. Perhitungan hubung singkat agar dilakukan untuk menentukan arus gangguan hubung singkat maksimum terhadap keseluruhan sistem listrik untuk menentukan bus bracing, dan untuk mengenali bahwa pemutus tenaga mempunyai pengenal kerja yang memadai untuk dilalui dan memutuskan arus gangguan tanpa kerusakan. Studi agar memasukan efek gangguan tiga fasa, fasa ke fasa, fasa ke tanah, dan fasa-ke-fasa-ke-tanah pada sistem kelistrikan dengan mengikut sertakan kontribusi motor dan generator.
b. Komponen arus searah (DC) dari arus hubung singkat tak simetris agar diperlihatkan penurunan yang memadai terhadap waktu pembukaan kontak pemutus tenaga untuk berusaha memadamkan busur api.
c. Study hubung singkat agar dilakukan dengan menggunakan criteria sebagai berikut:
1). IEC 60909 harus di adopsi untuk menghitung arus hubung singkat.
2). Toleransi IEC agar digunakan untuk impedansi trafo kecuali telah disetujui oleh perusahaan (COMPANY).
3). IEC 60909 metode C agar digunakan untuk menghitung puncak arus hubung singkat.
d. Hasil Studi arus hubung singkat agar digunakan untuk meninjau :
1). Kemampuan pengenal busbar.
2). Kemampuan pengenal switchgear
3). Kemampuan pengenal kabel

3.2. Studi aliran beban (Load flow study)
Sudi aliran daya agar dilakukan untuk menghitung semua tegangan rel (bus voltage), dan aliran daya ke seluruh fasilitas sistem listrik. Laporan aliran daya agar dibuatkan table mengenai besar daya aktif (real), daya reactive yang disuplai oleh setiap trafo, penyulang, dan rel-bar (busbar) dengan beban fasilitas terhubung. Diagram aliran daya agar dipersiapkan untuk sistem-sistem utama, essential, dan sistem emergency dan agar memperlihatkan gambar MW atau MVA, tegangan rel-bar, dan sudut tegangan.
Studi aliran daya agar termasuk persiapan perhitungan dan diagram yang memperlihatkan distribusi beban dalam keadaan kondisi operasi abnormal yang sudah diprediksi sebelumnya, seperti kehilangan salah satu penyulang atau trafo sehubungan dengan gangguan atau kondisi pemeliharaan

3.3 Studi Pengasutan Motor.
Studi pengasutan motor agar dilakukan untuk menentukan profile tegangan sistem pada saat pengasutan motor yang paling besar dalam kondisi minimum suplai smentara fasilitas lain beroperasi pada beban penuh, dengan penekanan terhadap sifat-sifat dinamis sistem listrik secara keseluruhan.
Studi agar membuat model impact dari pengasutan motor (static) dan percepatan motor (dinamis) terhadap keseluruhan sistem listrik.
Mode pengasutan untuk semua motor-motor listrik di kilang biasanya agar dilakukan pada tegangan penuh.

3.4. Stabilitas Peralihan
Analisa stabilitas peralihan (transient stability analysis) didasarkan pada konfigurasi sistem listrik yang paling akhir agar dilakukan untuk meninjau stabilitas sistem dan memverifikasi bahwa generator akan berusaha seimbang setalah adanya kegagalan atau gangguan. Analisa stabilitas peralihan dengan menggunakan ETAP power station.
Hasil dari studi ini dapat digunakan untuk merencanakan Load Shedding System.

3.5 Analisa Harmonis
Program computer agar digunakan untyuk mensimulasikan, membuat model, dan analisa harmonic sistem daya. Program agar digunakan untuk mendapatkan ketelitian model dari berbagai komponen sistem daya dan perlengkapan termasuk ketidak tergantungan frekwensi, ketidak lineran, dan karakteristik lain pada saat keberadaan sumber-sumber harmonis. Dua (2) metode analitikal agar digunakan dengan gabungan: aliran beban harmonis dan pemindaian frekwensi harmonis dalam hal menghitung perbedaan harmonis index dan permasalahan kualitas daya potential. Yang menyebabkan masalah ini agar diindentifikasi dan skema perbaikan agar dikembangkan dan diterapkan.

3.6. Penerangan dan Fotometri
Studi distribusi penerangan (fotometri) agar dilakukan untuk membuat tingkat penerangan disemua daerah kilang, termasuk semua area terbuka, proses atau penyimpanan, bangunan, jalan, dan rute evakuasi. Iluminasi agar seseragam mungkin, diambil pertimbangan gangguan yang dijumpai dikilang biasanya vessel, pipa, rak pipa, dan peralatan. Konsep umum dari disain agar pengiriman tingkat lux tertentu (foot-candle) dari iluminasi ke suatu bidang horizontal. Studi agar mengambil pertimbanagan penurunan kemampuan tingkat penerangan dan kehilangan keluaran sehubungan adanya kotoran dan faktor contaminant yang lain.

4.0 Rating Hubung Singkat.
Rating hubung singkat switchgear sekurang-kurangnya sama dengan 110% dari hasil perhitungan hubung singkat pada rel (bus) yang diamati.
Pertimbangan agar diberikan untuk memberikan suatu rating hubung singkat tunggal pada semua pada tegangan yang sama, terlepas dari lokasi trafo dan rating trafo.
Berikut ini rating arus hubung singkat switchgear yang diperoleh dari data hasil perhitungan saat melakukan engineering awal, seperti :
· Sistem tegangan menengah 11 kV, 6.900 Volt, masing-masing mempunyai kemampuan terhadap arus hubung singkat adalah 40 kA dan 65 kA RMS untuk 3 detik dan 100 kA puncak simetris.
· Sistem tegangan rendah (LV) 420 Volt mempunyai rating ketahanan terhadap arus hubung singkat adalah 65 kA RMS, untuk 1 detik dan 200 kA peak asimetris.
Kemampuan pengenal (rating) hubung singkat untuk komponen sistem daya agar di konfirmasikan dengan hasil perhitungan studi final.

5.0. Variasi Tegangan dan Frekwensi.

5.1. Variasi frekwensi.
Fluktuasi frekwensi yang ditentukan disini agar diterapkan untuk kondisi normal dan sistem daya khusus pada semua kondisi kasus pembangkit daya,
Frekwensi sistem daya agar dipertahankan pada ± 2% dari nilai nominal kondisi steady state dan frekwensi sistem daya agar dijaga dalam batas ± 5% dari nilai nominal untuk kondisi peralihan (transient) termasuk kondisi pengasutan motor.

5.2. Variasi Tegangan
Fluktuasi tegangan yang ditentukan disini dimaksudkan untuk beban sistem daya normal dan essential dalam kondisi semua kasus pembangkitan daya. Tegangan agar dijaga ±5% nilai nominal untuk kondisi tunak (steady state).
Tegangan-tegangan agar dijaga ± 10% dari tegangan nominal untuk kondisi peralihan (transient), termasuk pengasutan motor. Tegangan lebih tidak boleh melampaui 120% nilai nominal untuk waktu tidak lebih dari 2 detik atau 110% dari nilai nominal tidak lebih dari 4 detik.
Kondisi di atas dilakukan untuk mencapai kondisi sebagai berikut :
· Memilihan kabel yang sesuai untuk membatasi jatuh tegangan diujung rangkaian penerima dan mempertahankan tegangan terminal pada tingkat yang dapat diterima peralatan.
· Untuk mencegah kontaktor drop out atau kebutuhan pengasutan kembali motor pada tegangan yang terganggu.
· Memenuhi persyaratan kode.
Perubahan tegangan yang membahayakan sistem misalnya: melampaui 20% tegangan nominal yang berfinal tidak lebih dari 0.2 detik. Sebagai contoh adalah pemulihan arus hubung singkat oleh pengaman sesaat (instantaneous protection) yang tidak akan menyebabkan penghentian layanan kritis dan layanan khusus (essential). Hal ini dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut :
· Penundaan trip pengaman tegangan kurang pada kontaktor dan/atau pemutus tenaga (circuit breaker).
· Latches contactors untuk penyulang-penyulang trafo.
Komponen urutan fasa negatif dari tegangan tidak boleh melampaui 2% dari tegangan urutan positif. Peralatan yang mempunyai persyaratan khusus terhadap variasi tegangan atau bentuk gelombang agar dilengkapi dengan alat stabilisasi yang memadai atau pasokan daya penapis.

5.3. Tegangan Terminal Motor.
Batas-batas tegangan terminal motor yang dapat diterima didefinisikan pada saat merancang motor dan kemampuan menghasilkan torsi untuk percepatan beban mekanis pada tegangan yang dikurangi.
Motor-motor yang ditentukan sesuai dengan IEC 60034 cocok untuk pengasutan pada tegangan sebesar 80% dari nilai nominal. Nilai ini mewakili kriteria untuk menjamin kemampuan unjuk kerja pengasutan mekanis.
Pada umumnya, kabel-kabel dirancang untuk jatuh tegangan maksimum sebesar 15% pada saat pengasutan motor yang menyatakan tidak langsung perubahan peralihan (transient) maksimum pada busbar 5% sebagai batas normal yang dapat diterima. Namun demikian untuk motor-motor besar, kalkulasi agar mempertimbangkan impedansi rangkaian total dari sumber sampai ke terminal motor untuk menentukan tegangan sebenarnya pada dan terminal motor untuk membatasi variasi tegangan busbar seperti pada uraian di atas.

5.4. Pasokan Daya AC Kritis.
Pasokan daya AC kritis merupakan subjek terhadap tegangan peralihan (transient) dan tunak (steady state), dan perubahan frekwensi seperti pasokan normal, di mana pasokan by pass dikondisikan. Pada saat normal operasi inverter (setiap waktu kecuali pada posisi by pass) tegangan keluaran (output) UPS dan frekwensi agar masing-masing dijaga berkisar diantara ±2.5% dean ±1.5%. Pada saat kondisi peralihan variasi tegangan dapat mencapai ±10%. Peralatan agar ditentukan kemampuan kerja maksimum terhadap perubahan frekwensi 0.2 Hz/sec.

5.5. Pasokan Daya DC Kritis.
Pasokan daya DC kritis agar dirancang bahwa perubahan tegangan tunak (steady state) pada busbar pemasok tidak melampaui ±10%.
Pada saat kondisi transient tegangan ditekan sampai -20%.
Kondisi rancangan untuk peralatan paket dengan tambahan DC agar ditentukan oleh pemasok (supplier).

5.6. Harmonic Distortion.
Distorsi tegangan harmonis tidak boleh melampaui 5% pada rel (bus) tegangan menengah
Jika beban listrik seperti sistem kontrol thyristor menghasilkan tegangan dan gelombang arus yang cacat (distortion) yang memungkinkan mengganggu umur atau unjuk kerja peralatan listrik lainnya, maka pengukuran yang memadai seperti penapis harmonis (harmonic filtering), atau pergeseran fasa agar dipertimbangkan. Penapis agar ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber distorsi. Distorsi harmonik ke tiga (3) tidak boleh melampaui 5%.

6.0. Jatuh Tegangan
Perhitungan jatuh tegangan (voltage drop) dan pengaturan tegangan agar dipersiapkan sebagai bagian study aliran daya. Program ETAP yang sesuai agar digunakan. Perhitungan ini harus ditentukan profile tegangan sistem dalam keadaan beban penuh dan ringan tanpa beban
Hasil dari studi di atas agar digunakan untuk memverifikasi kondisi berikut ini:
a. Kapasitas penyulang
b. Profile tegangan sistem
c. Pembebanan/kemampuan kerja Trafo
d. Penyetelan Tap trafo.
Mengacu ke Tabel 1. yang menguraikan bagaimana sistem listrik agar menjadi subjek untuk membatasi jatuh tegangan:

No. Elemen Sistem VDROPMax*1
1. Busduct atau kabel antara sekunder trafo dan MV switchboard atau LV switchboard 0.5%
2. Kabel antara LV switchboard dan MCC atau switchboard bantu.
a. Switchboard MCC/Bantu dekat LV switchboard 0.5%
b. Switchboard MCC/Bantu ditempatkan jauh membentuk LV switchboard 2 s/d 5%
3. Kabel antara MV switchboard dan MV Motor 3%
4. Kabel antara Switchboard LV switchboard dan motor 5%
5. Kabel antara MCC (ditempatkan dekat dengan switchboard) dan motor-motor 5%
6. Kabel antara MCC (ditempatkan jauh dari LV switchboard) dan motor-motor 3%
7. Kabel antara auxiliary switchboard dan panel penerangan
Rangkaian antara panel penerangan dengan titik lampu penerangan 5% (total)
8. Rangkaian suplai DC (electrical control) 5%
9. DC distribution board ke kontrol room 2% (note 1)
10. Rangkaian keluar UPS 2% (note 1)
11. Generator atau trafo ke motor terminal pada beban penuh 5%
12. Pada busbar switchboard yang paling buruk terkena akibat pengasutan (start-up)

motor besar MV dengan beban lain beroperasi pada rel (bus) 15%
13. Pada busbar switchboard yang paling buruk terkena akibat pengasutan (start-up)

motor besar LV dengan beban lain beroperasi pada rel (bus) 10%
14. Kabel antara LV switchboard dan motor. Motor start-up atau re-acceleration 5%
15. Kabel antara LV switchboard dan motor, pada saat pengasutan atau reacceleration 15%

Note-1. Tegangan minimum yang ada pada terminal instrument di lapangan agar disesuaikan dengan kriteria rancangan Instrumen dan kontrol proses.


Peralatan Utama Sistem Listrik Untuk Kilang Pencairan Gas Alam

Peralatan Utama Sistem Listrik
Untuk Kilang Pencairan Gas Alam

1.0. Pendahuluan
Kilang industri oil & gas, khususnya kilang pengolahan gas alam memerlukan sistem utilitas sebagai salah salah satu penunjang operasi. Umumnya, lokasi kilang terletak jauh dari kota besar sehingga hampir seluruh prasarana dan sarana harus dipersiapkan, termasuk di dalamnya pembangkit tenaga listrik. Tulisan ini hanya akan membahas mengenai sistem kelistrikannya saja, meskipun banyak faktor penunjang lainnya.

2.0 Fasilitas Kilang Pencairan Gas Alam
Fasilitas kilang terdiri dari;
a). Fasilitas pengolahan seperti: feed inlet system, dehydration/mercury removal, liquefaction, fractionation dan rangkaian refrigeration.
b). Sistem Utilitas seperti: pusat pembangkit, pemanas minyak, fuel gas, air, nitrogen, pemadam kebakaran, dan listrik.
c). Fasilitas Offsite seperti: penyimpanan (storage) and pengapalan (loading) LNG, termasuk penanganan BOG compressor, penyimpanan (storage) dan pengiriman (transfer) kondensat, penyimpanan dan pemindahan minyak diesel (Diesel oil storage and transfer), proses gas/pembuangan cairan (liquid disposal), pengolahan air limbah (Waste water treatment), penyimpanan limbah berbahaya dan tidak berbahaya, bangunan, sistem telekomunikasi, fasilitas pembongkaran barang (Material off loading facilities) dan sistem instrumen dan kontrol.
2.1. Dasar Perancangan Listrik.
Diperlukan sistem listrik yang dirancang fleksibel dan andal. Tujuan utama perancangan sistem adalah operasi pengolahan yang andal dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan. Semua sistem listrik agar dirancang sesuai dengan standar IEC (mungkin saja ANSI) dan beroperasi pada frekwensi 50 hz.
Beberapa hal yang menjadi tanggung jawab kontraktor EPC antara lain konfirmasi mengenai semua beban-beban listrik dan memverifikasi ketepatan kemampuan generator dan turbin utama, generator essential dan generator darurat, switchgear-switchgear, trafo-trafo, kabel-kabel, rel-rel peralatan listrik, dan komponen-komponen lainnya.
Semua switchgear dan MCC tegangan menengah jika dipesan dari USA agar dibuat dan diuji sesuai dengan ANSI/NEMA standard, misalnya 11 kV, 3-fasa, 50Hz, 63 kA RMS rating arus hubung singkat simetris. Semua switchgear dan MCC tegangan rendah agar dibuat sesuai dengan IEC standar 420V, 3-fasa dan 50 Hz.
Pemilihan kapasitas generator agar sesuai dengan pilosofi N+1 yang sudah ditentukan sebelumnya, di mana N merupakan jumlah generator yang diperlukan untuk mengopereasikan beban kilang.
2.2. Filosofi Sistem Kelistrikan
Filosofi sistem kelistrikan merupakan garis besar dari prinsip-prinsip disain yang akan diterapkan, termasuk didalamnya memilih dan mengoperasikan sistem kelistrikan tersebut. Fasilitas kilang industri minyak dan gas biasanya terdiri dari sebuah pusat kontrol proses utama, kilang pengolahan dan ruang kontrol lokal. Kontrol Sistem Utilitas seperti pembangkit listrik dapat saja digabung di ruang kendali utama.
Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan terhadap pokok pembahasan sistem kelistrikan berikut ini: pembangkitan dan distribusi daya (daya normal, daya khusus atau essential dan darurat, dan daya kritis), pengaman dan pengendali listrik, penerangan dan beban daya kecil, rancangan kabel, dan pentanahan dan pengaman petir.
Untuk mencapai tujuan utama dari disain kilang maka banyak dokumen yang harus disiapkan. Dokumen tersebut harus sesuai dengan dasar-dasar proyek dan paket-paket rancangan seperti spesifikasi yang berhubungan dengan “National and international standards and code”. Pilosofi yang jelas dan ringkas tentunya dapat diterapkan pada proses rancangan selanjutnya atau rancangan final (detail design).

2.3. Kondisi Sistem Kelistrikan yang diharapkan
Rancangan sistem kelistrikan agar berdasarkan kondisi berikut ini:
· Aman bagi manusia dan peralatan pada saat pengoperasian dan pemeliharaan.
· Andal dan berkesinambungan pelayanannya untuk semua kondisi kerja.
· Pasokan dan distribusi daya darurat (emergency power) untuk beban-beban utama terjamin.
· Pasokan UPS untuk sistem kontrol kritis, komunikasi dan peralatan keamanan (safety equipment) yang diperlukan.
· Kemudahan dalam melakukan pengoperasian, pemeriksaan (inspection), pemeliharaan dan perbaikan.
· Peralatan tertentu dapat saling dipertukarkan dan kemudahan pengembangan untuk waktu yang akan datang.
Rincian dari persyaratan peralatan listrik dapat dijumpai pada masing-masing spesifikasi peralatan.
2.4. Standard an Code
Seluruh peralatan listrik yang akan diterapkan di dalam kilang pengolahan harus memenuhi standar dan code yang berlaku, seperti International Electro-technical Commission (IEC), Institution of Electrical Engineers, Institution of Electrical and Electronic Engineers, American Petroleum Institution, Institute of Petroleum, CAP 437, IALA AISM, International Civil Aviation Organization, ANSI/NEMA, NEC dan lain sebagainya.
3.0 Pembangkit & Distribusi Tenaga Listrik
3.1. U m um.
Karena lokasinya yang terpencil, sehingga tidak ada dukungan infrastruktur dari luar kilang yang tersedia dan untuk itu, maka sistem utilitas dirancang berdasarkan kebutuhan sendiri. Dalam perencanaan Kilang LNG biasanya utilitas kilang tidak akan memasok energi listrik ke utilitas diluar kilang. Hal ini didasarkan pada perkiraan pemenuhan beban kilang dan daya yang dibangkitkan biasanya tidak berlebihan dan kalaupun ada dipersiapkan untuk kebutuhan pengembangan kilang.
3.1.1. Pembangkit Utama
Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, maka perusahaan merencanakan membangun Power House. Untuk penyederhanaan konfigurasi dan pengurangan biaya investasi, maka dipilih pembangkit daya yang sesuai dengan pertimbangan teknis dan ekonomi, bisa saja turbin gas siklus sederhana, turbin uap dan atau mesin diesel dengan ketersediaan cadangan sistem N + 1 yang diterapkan untuk pasokan normal.
3.1.2 Pembangkit Daya Darurat
Sistem daya darurat kilang (Plant Emergency Power System) juga dipersiapkan untuk memberikan pasokan ke sistem kontrol kilang, system ESD, sistem Fire & Gas, ruang kontrol, sistem-sistem komunikasi dan sistem penerangan darurat jika sistem distribusi daya normal terganggu. Jumlah mesin pembangkit darurat harus disesuaikan dengan daya darurat, daya khusus (essential) dan daya kritis yang diperuntukan bagi pasokan daya darurat dan black-start-up.
3.2. Peralatan Listrik Utama
Berikut ini peralatan elektrik utama yang diperlukan:
· Pembangkit daya normal dan darurat.
· Peralatan Distribusi tenaga listrik seperti substation, kabel, dan transformator.
· Pasokan daya tidak terputus (Uninterruptible Power Supply).
· Pasokan daya instrumentasi (Instrument power supply).
· Motor listrik (Electrical Motor System).
· Cathodic Protection – Sacrificial anode atau impressed current system.
· Electric heat tracing system.
· Sistem proteksi pentanahan dan petir.
3.2.1. Distribusi Tenaga Listrik
Pembangkit Daya Listrik.
Jenis penggerak pembangkit utama kemungkinan adalah penggerak turbin gas, turbin uap dan mesin diesel, atau kemungkinan gabungannya. Jumlahnya akan sangat dipengaruhi faktor keandalan sistem yang direncanakan. Penggerak mula generator darurat yang dipilih umumnya merupakan penggerak mula mesin diesel.
Parameter-parameter generator pembangkit daya kilang pencairan gas alam dari kilang satu dengan lainnya umumnya selalu tidak sama, misalnya saja ada yang memilih parameter tegangan 11 kV, 3 fasa dan 50 hz untuk sistem distribusi primer, 6.9 kV sistem tegangan distribusi sekunder. Adapun berbagai tegangan distribusi yang diterapkan adalah 11 kV, 6.9 kV, 420 Volt, 3 fasa, dan 50Hz. Tegangan 420/240V biasanya digunakan untuk penerangan dan pemakai daya kecill. Selanjutnya tegangan 220 V fasa tunggal yang dilengkapi dengan penghantar netral digunakan untuk stop kontak (outlet) pada rumah tinggal (living quarter) dan bangunan lainnya.
Struktur Jaringan
Untuk memasok energi listrik yang efektif dan efisien maka dipilih tegangan dan struktur jaringan yang keandalannya sudah terbukti penerapannya. Berikut konfigurasi struktur jaringan yang diterapkan pada kilang LNG yang sudah terbukti baik antara lain seperti, Sistem radial sederhana, Sistem radial yang dikembangkan, Sistem Selektif Primer, Sistem lingkaran primer, Sistem Selektif sekunder dan Rel cincin (Ring Bus).
Penerapan tegangan
Distribusi primer menggunakan kabel bawah tanah dari substation utama ke masing-masing unit-unit substation. Penggunaan kabel tray atau kabel ladder dapat juga diterapkan sesuai dengan lokasi peralatan. Namun sebagai besar melalui kabel bawah tanah.
Motor-motor induksi operasi kontinyu disuplai dari Motor Control Center (MCC) yang dilengkapi dengan pengasut, pengecualian untuk motor dengan kemampuan sama dengan atau lebih besar dari 1500 kW suplai dayanya diperoleh secara langsung dari tegangan menengah atau melalui Captive Transformer sebagaimana ditentukan oleh sistem studi.
Berikut ini contoh penggunaan tegangan pada terminal Motor.
Motor di bawah atau sama dengan 150 kW 400V, 3 fasa, 50 hz (tegangan supali 420V).
Motor 151 kW atau lebih besar 6600V, 3 fasa, 50 hz (tegangan suplai 6900).
Pemakai bukan proses seperti peralatan penerangan dan pemeliharaan di bengkel yang mempunya rated 0.75 kW dan lebih rendah dapat dipasok dari rangkaian fasa tunggal 230/240 Volt.
Tegangan-tegangan alternatif diperkenankan seperti untuk pemanas (heater) yang menggunakan tegangan 690 volt dan motor-motor kompresor pembantu penggerak yang menggunakan pengerak dengan frekwensi yang dapat disesuaikan (variable speed drive).
Tingkat gangguan arus maksimum (MVA maksimum) agar dibatasi tidak lebih dari 50 kA untuk sistem 11 kV, 40 kA rms untuk 6.9 kV dan 65 kA rms untuk system 420 Volt. Nilai-nilai tersebut diperoleh dari hasil studi sistem daya.
3.2.2. Sistem Pentanahan
Pentanahan Sistem Daya.
Pentanahan yang dimaksud disini adalah menempatkan resistance diantara titik neutral generator atau trafo dan ke titik pentanahan.
Sistem pentanahan yang diterapkan adalah sistem pentanahan dengan tahanan rendah (low resistance grounding) seperti pada generator utama, generator darurat (emergency generator) dan trafo 11kV/6.9 kV. Sedangkan pentanahan langsung (solid grounding) diterapkan seperti pada trafo dengan sisi sekunder 420 Volt. Namun ada salah satu kilang menerapkan sistem pentanahan tahanan tinggi (High Resistance grounding) dengan menggunakan NGT (neutral Grounding Transformer) yang dipasang antara titik netral generator dan titik pentanahan. Ada juga trafo sistem tegangan 4.16 kV dan 480V yang menerapkan sistem pentanahan tahanan tinggi dengan tujuan agar gangguan tanah pada sistem tidak secara otomatis melepaskan sistem yang terganggu.
Pentanahan Peralatan.
Bagian metal dari peralatan listrik harus ditanahkan untuk mengurangi tegangan yang masuk akibat sambaran petir untuk mencegah kebakaran akibat busur api yang terjadi pada struktur atau bangunan. Namun demikian pentanahan bagian metal ke tanah tidak selalu melindungi peralatan listrik atau elektronik terhadap peralihan tegangan petir (lightning voltage transient) pada rangkaian konduktor. Untuk melindungi peralatan maka dianjurkan untuk memasang peralatan proteksi surja tegangan peralaihan.
Untuk menghilangkan tegangan yang berbahaya dari gangguan tanah, dianjurkan untuk menghubungkan (bonding) bagian metal dari raceway, kabel-kabel, enclosure yang titik akhirnya pada elektroda pentanahan.

3.2.3. Sumber suplai peralatan instrumentasi.
Suplai bukan UPS.
Pengguna instrumentasi, daya bukan UPS ditentukan pada tegangan 230 V, fasa tunggal, 50 hz, dengan batas nilai perubahan pada kondisi tunak (steady state) ±5% dan frekwensi ±2% dan tidak dilengkapi daya cadangan.
Suplai UPS.
Sedangkan untuk daya UPS mempunyai tegangan 230 V, satu fasa, 50 Hz, dengan fluktuasi tegangan ±2% dan fluktuasi frekwensi ±1% dengan autonomi daya cadangan selama 30 detik atau satu jam atau bahkan lebih, tergantung pada kebutuhannya.
3.2.4. Sistem daya tidak terputus.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka digunakan UPS (Uninterruptible Power System) dengan gambaran singkat seperti keterangan berikut ini.
UPS DC
Masukan (input) tegangan AC 400V, ± 15%, 3 fasa dengan frekwensi 50Hz ± 10% dengan harmonic current Distortion lebih kecil dari ±10% dihubungkan ke penyearah (charger) atau pengisi baterai. Sistem UPS DC terdiri dari sebuah pengisi baterai (battery charger) yang mengubah suplai AC menjadi suplai DC, sebuah set baterai, dan perlengkapan kontrol keluaran DC dan panel distribusi DC. Keluaran tegangan tergantung tegangan sistem kontrol yang diterapkan, misalnya 125Vdc, 110Vdc, 24Vdc dan lain-lain.
Sistem pengisi baterai yang dipilih memungkinkan sistem ganda (redundant) dengan dua buah baterai pengisi ganda dan sebuah baterai bersama (1x100%).
UPS AC
Tegangan keluaran UPS AC adalah 230 V, satu fasa, 50 Hz, dengan fluktuasi tegangan ±2% dan fluktuasi frekwensi ±1% dengan kemampuan baterai memberikan daya cadangan selama 30 menit. Harmonic Current Distortion (THD) lebih kecil dari ±5%. Kemampuan terhadap beban lebih yaitu 150% untuk waktu 60 detik dan 500% untuk 10 cycles.
Sistem ini terdiri dari pengisi baterai (battery charger)/penyearah arus (current rectifier), satu set baterai, inventer sebagai pengubah masukan DC menjadi keluaran AC, sebuah saklar pemindah static otomatis, sebuah rangkaian bypass manual dari suplai daya normal. Rangkaian bypass agar dilengkapi dengan stabilizer tegangan. Sistem UPS AC agar dari jenis redundant dengan dua baterai pengisi baterai, inverter ganda dengan saklar pemindah otomatis dan dua set baterai yang terpisah (2 x 100%) seperti ditentukan pada data sheet. Setiap pasangan UPS agar mempunyai kapasitas beban 100%.
4. Sistem Studi
Untuk menghasilkan rancangan yang baik, maka perlu dilakukan studi sistem daya yang paling sedikit melakukan studi aliran daya (load flow studi), hubung singkat (short-circuit studi), koordinasi relay (relay coordination) dan studi stabilitas (stability study). Perangkat lunak ETAP (Electrical Transient Analyzer Program) dapat digunakan untuk melakukan studi diatas.
Ada beberapa perhitungan sederhana yang juga diperlukan seperti penentuan ukuran trafo, kabel, batere, proteksi katodik (cathodic Protection) baik sacrificial anode maupun impress current dan yang lainnya.
Studi dan perhitungan di atas merupakan tanggung jawab kontraktor EPC, sebagai owner tentunya harus memahaminya guna menilai apakah hasil studi itu benar.
5. Klasifikasi Daerah Hazards
Klasifikasi daerah hazardous agar sesuai dengan IEC 79-10. Pengembangan zone hazard agar sesuai dengan criteria pada API RP 500A.
Gambar-gambar klasifikasi area agar memperlihatkan plot plan unit proses yang diusulkan dan agar digunakan sebagai dasar pemilihan peralatan listrik. Menentukan area hazardous agar disesuaikan dengan keterangan lengkap data proses yang menjadi sumber pelepasan bahan yang mudah terbakar (flammable material) ke atmosfir dalam keadaan operasi normal atau tidak normal, tingkat pelepasan dan lama kejadian dan frekwensi kejadian.
Peralatan listrik sebaiknya tidak ditempatkan pada daerah hazard, atau sekurang-kurangnya tidak begitu berbahaya. Ruang listrik atau ruang peralatan local pada daerah proses dan utilty akan menerapkan sistem ruangan bertekanan, di mana ruangan bertekanan sedikit lebih tinggi dari tekanan diluar ruangan. Tentunya udara yang diambil untuk memberikan tekanan di ruang tersebut harus diambil dari daerah yang tidak termasuk hazard. Kehilangan tekanan pada daearh tersebut menyebabkan daerah tersebut diklasifikasikan sebagai daerah hazard.
Biasanya, area pengolahan diklasifikasikan sebagai area Zone 0, Zone 1, dan Zone 2 dan daerah non hazard. Sebagian besar area kilang pengolahan akan diklasifikasikan sebagai area Zone 2 dan Zone 1 yang terjadi pada daerah yang buruk ventilasinya, misalnya, vents, pump seals, sumps atau pit.
Klasifikasi daerah hazard agar mengikuti Code seperti API RP 505, “Classification of Locations for Electrical Installation at Petroleum Facilities Classified as Class 1, Zone 0, Zone 1 and Zone 2”, IEC 60079, “Electrical Apparatus for Explosive Gas Atmosphere, dan lain-lain.
6. Kesimpulan.
· Umumnya lokasi kilang pencairan gas alam terletak pada daerah yang terpencil, di mana fasilitas utiliti tidak tersedia sehingga pendirian kilang akan disertai dengan menyediakan fasilitas tersebut.
· Penggerak mula generator yang dipilih harus mempertimbangkan segi teknis dan ekonomi di lingkungannya.
· Ada tiga jenis beban listrik yang harus dipertimbangkan kondisi suplainya, seperti beban normal, essential/darurat dan beban kritis.
· Struktur jaringan distribusi yang banyak digunakan pada kilang Oil & Gas adalah jaringan radial tunggal dan secondary selective double ended substation.
· Perlu dilakukan studi mengenai aliran daya, hubung singkat, koordinasi relay dan stabiltas sistem.
· Perlu diperhatikan sistem pentanahan sistem daya dan pentanahan peralatan.
· Sistem tegangan dari kilang satu dengan lainnya umumnya tidak sama.
· Sistem daya tidak terputus dipasok dari UPS, baik itu UPS DC maupun AC.
· Peralatan listrik yang ditempatkan didaerah hazard agar dipastikan cocok dengan daerah tersebut.

Monday, November 16, 2009

Anda Bertanya Saya Menjawab

Rekan-rekan Yang Saya Hormati,
Saya mencoba sharing pengalaman saya, khususnya bidang ketenagaan listrik untuk oil & gas. Sebagai gambaran singkat jika anda mempunyai permasalahan dengan
1). sistem pentanahan (earthing system) termasuk proteksi dan bagaimana mengujinya,
2). pilosofi sistem kelistrikan untuk oil and gas.
3). Pembangkitan dan distribusi.
Mungkin saya bisa membantunya.
Jika pertanyaan itu sulit saya akan usahakan mencari jawaban dari rekan-rekan saya, jadi bukan berarti saya tahu semua.
Terima kasih atas perhatiaanya.
Salam,
RSM